Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Julie's Small World

Blog EntryApr 6, '08 10:56 PM
for everyone

Orang Tionghoa kalau meninggal kadang enggak dikubur, tapi di kremasi.
Abu sisa kremasi lalu bisa dibawa pulang, untuk ditaruh di meja abu di rumah; di altar leluhur, atau dititipkan di tempat Abu, yang biasanya kayak apartment untuk guci2 abu, ada juga yang sisa abu tulangnya disebar di gunung atau di laut.

Diperabukan maupun tidak, seringkali di rumah orang tionghoa ada meja sembahyang leluhur, yang disebut meja abu, kadang ada foto2 Almarhum dipajang disana, kadang tidak pakai foto, hanya papan kayu bertuliskan nama dan tanggal kematiannya saja.

Setiap perayaan Ceng Beng yang berlangsung 15 hari sebelum sampai mentoknya tanggal 5 April setiap tahun, keluarga gue ada satu hari kumpul2 sembayang bersama di depan meja Abu. Di Meja Abu ini semua sanak yang sudah meninggal nanti "disuguhi" penganan.

Makanya sembahyang meja abu biasanya juga berarti acara kumpul kumpul dan makan-makan keluarga besar.
Makanan wajibnya hampir mirip kalau Imlek deh, ada Ikan, ada ayam, ada babi plus beberapa penganan tambahan lain, yang biasanya merupakan makanan kesukaan kerabat yang sudah almarhum. Jadi bisa tahu tahu ada sayur asem, atau sambal goreng, atau asinan rujak yang kalau digabung sih enggak nyambung, hehehehe.

Ritual ini seperti juga untuk 'mengingat' mereka yang sudah almarhum itu jangan sampai terlupakan. Cerita dan Gossip juga kadang tentang mereka yang sudah meninggal, tapi dalam suasana gembira. Sebab ritual sembayang meja abu, seperti juga acara pesta makan bersama antara yang sudah tiada dengan yang masih hidup di dunia, sing penting ngumpul, seolah mereka masih ada hanya saja tidak terlihat !

Diawali dengan set up meja altar, yang dipenuhi berbagai makanan, mulai dari nasi, lauk, kue dan buah-buahan. Nasi biasanya di siapkan di mangkuk2 kecil, ada berapa almarhum yang "diundang" sedemikian banyak mangkuk nasi disediakan, dengan sumpit ditancap tegak lurus diatas nasi. Gue pernah diomelin bokap karena menancapkan sumpit ke atas nasi yang
sedang gue makan, sama bokap langsung dicabut lalu gue diomelin, sumpit tertancap hanya untuk menyuguhi orang mati, kamu masih hidup, sumpitnya harus ditaruh di pinggir mangkuk, jangan ditancep begitu, apa mau cepet mati? gitu katanya, heheheheh.

Sedangkan buah-buahan dan kue-kue biasanya disusun dalam kombinasi angka ganjil, misalnya tiga atau lima buah saja setiap macam. Begitupun untuk lauk pauk teman nasi yang disiapkan masing masing hanya semangkuk keciiiil yang untuk orang hidup pasti gak cukup deh segitu.
Gue pernah tanya sama mami, "Mam, nasinya ada tigabelas, kok kuenya cuman lima? Nanti pada rebutan donk?"
Mami dengan santainya bilang "Alam sini lain dengan alam sana, bahkan satu kue bisa cukup untuk ber tigabelas masing-masing dapat satu."

Gue melongo, tapi nggak tanya lagi, walaupun logika sebagai anak kecil pun waktu itu sudah heran bagaimana mungkin???? Hehehe, urusan kepercayaan memang tidak perlu diselaraskan dengan logika, kalau dianggap cukup, ya cukuplah. Hanya saja dulu gue berpikir, yah barangkali di alam sana ada ilmu pengganda makanan, atau mesin yang bisa
memperbesar rumah-rumahan kertas jadi sebesar gedung betulan, atau ilmu yang mengubah uang-uangan kertas Gin Cua menjadi perak solid. Tugas yang hidup cuman tinggal mengirim bahan-bahannya ke alam sana, beres.

Setelah set up meja altar, dimulai lah acara sembahyang, dimulai dari yang paling dituakan, mengundang para almarhum untuk bertandang dan menerima yang sudah disediakan. Entah bagaimana, ceritanya makanan yang disuguhkan saat Ceng Beng ini akan mengenyangkan mereka di alam sana, supaya mereka tidak jadi setan kelaparan saat bulan tujuh, saat chinese ghost festival. Nah untuk sembahyang di meja abu ini ada perdebatan, ada
yang bilang anak dari almarhum pai kui (hormat berlutut) 12 kali, ada yang bilang pai kui hanya 3 kali, entah mana yang betul deh. Pokoknya setelah acara sembayang mengundang para leluhur dan almarhum ini sementara yang dari alam sana "makan", yang hidup juga sibuk mengisi perut dengan berbagai suguhan yang disediakan. Yang datang biasanya
masing-masing bawa satu penganan, jadi kayak POT LUCK gitu, makanan jadi
baaaaanyaaaaaaaaaakkkk macam dan jumlahnya, alhasil.... kekenyangan, hehehehehe.

Sambil makan makan tangan bekerja, membuat uang uangan. Sebab berikutnya ada acara bakar-bakar Gin Cua berkarung-karung, sebanyak sanggup dibuat. Sebab yang namanya Gin Cua itu semacam kertas merang yang diatasnya ada sapuan keperakan. Kertas berbentuk segi empat ini harus digulung dulu kayak semprong, lalu ujungnya dikerucutkan dan
ditekuk keatas supaya bentuknya nggak berubah lagi. Kata Oma dulu, kalau enggak dibentuk dulu, percuma kirim Gin cua ke alam sana, enggak bakalan laku, maka anak cucu yang dirumah yang membuat dulu gincua jadi bentuk uang uangan, lalu dibakar, dan dialam sana berubah jadi uang alambaka, gitu.

Setelah Gin cua habis dibakar, mulai lah bakar barang-barang kiriman.
Ada koper kertas berisi uang dan seperangkat pakaian, lengkap dengan sepatu dan sandalnya. Koper diberi "SEGEL" semacam kertas kuning, bertuliskan ini kiriman untuk siapa (tulis nama almarhum) dan dari siapa ( tulis nama yang masih hidup yang ngirim) katanya supaya enggak nyasar, hehehehehe. Dikirimnya pake TIKI kali, wakakakakaka......

Sambil bakar membakar ini anak cucu pada bercandaan semua, antara percaya dan nggak percaya, berusaha merasionalisasikan hal-hal yang tidak rasional.
Misalnya kemarin, kita ketawa-ketawa sambil kirim HANDPHONE ke alam sana. Handphone dari kertas, dengan merk NODIA bukan NOKIA. Lalu nakut nakutin sepupu gue, weh, besok kalu mau ceng beng lagi nyokap lu tinggal SMS sama lu ya, minta dibawain makanan apa.
Lalu ada juga dompet dan sepatu merk VERSASI sambil bercanda kita bilang, Si Versace kali bakalan nuntut deh di alam sana, karena rancangannya beredar dengan merk VERSASI ini.
Lalu kita juga bercandain sepupu gue yang kirim Creditcard dari BANK OF HELL bergambar Giam Lo Ong (raja akherat) bertuliskan VILLA (bukan VISA), wah bokap lu disono kalau belanja ntar tinggal gesek aje deh, tagihannya dikirim ke elu yah, getoh.
Lalu ada lagi sepupu gue yang masih SMP bilang gini, ngapain ya kita kirim-kirim duit begini banyak, disana khan nggak ada Mall, dan Oom-oom gue langsung nyahut, lu mana tahu kalau Giam Lo Ong udah bikin Mall segede Taman Anggrek disana, atau barangkali Kongco2 kita yang dikirimin duit berkarung-karung tiap taon udah pada investasi bikin Mall disana.
Candaan-candaan gila yang bikin kita ketawa-ketawa, sambil dalam hati bilang "apa iya sih?" antara tidak percaya dan ingin percaya, sebab alangkah menyenangkannya kalau kehidupan dunia bisa berlanjut di alam sana, which is... heheheheh too good to be true. But again, kepercayaan nggak perlu disambungkan sama logika, seberapa pun absurdnya, kalau
orang mau percaya demikian, mo bilang apa, ha ha ha ha, biarlah jadi hiburan saja.

Tapi gue masih terkenang-kenang sama creditcard itu tadi, hihihihihihi....... masih demen nakutin sepupu gue, bener lu kaga takut tau-tau ada tagihan dari BANK OF HELL ke elo??? wakakakakkakakaka......


docwong wrote on Apr 14, '08, edited on Apr 14, '08
Wekekeke
Seru dan menyegarkan. Saya kaitkan dengan artikel saya tentang Handphone Dunia Hantu di http://celotehdocwong.blogspot.com/2008/04/handphone-dunia-hantu.html. Jangan2 yang lu ceritakan itu sama barangnya dgn yang ada di pic blog gue itu
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller