Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Julie's Small World

Blog EntryApr 6, '08 10:45 PM
for everyone

Seorang pernah bertanya, "Ceng Beng itu apa sih?" yang disambut dengan
tawa kawan-kawan lain,
"Buset, kalau nggak tahu Ceng Beng apaan jangan ngaku tionghoa lu!"

Hehehe, sebetulnya Ceng Beng( atau QingMing dalam mandarin) itu apa sih?

Ada banyak kisah mengenai asal mula perayaan Ceng Beng ini, favorit gue adalah penjelasan yang paling sederhana, paling simpel, tapi paling masuk akal menurut gue. Seperti
yang dituturkan seorang kakek kepada cucunya:

"Jaman dahulu, mayoritas orang Cina adalah petani. Selewat tahun baru,di musim semi, petani disibukkan dengan musim tanam. Setelah selesai menanam, orang ada waktu senggang selagi membiarkan benih yang ditanam itu tumbuh mengakar. Diantara waktu senggang itulah orang punya waktu untuk ziarah ke makam leluhur atau kerabat, sambil membersihkan rumput-rumput yang bikin makam tampak tidak terawat, punya waktu untuk
memperbaiki makam leluhur yang rusak. Karena waktu senggang itu pula, kadang acara mengunjungi makam ini dipakai untuk acara piknik keluarga besar, semuanya berkumpul, piknik di makam, sambil membersihkan makam, sambil senda gurau, bahkan yang meninggal dianggap hadir berkumpul bersama anak cucu, ikut diundang piknik bahkan disediakan makanan bagi mereka. Saat itu makam tidak jadi tempat angker, tapi jadi tempat piknik."

Heheheeh, barangkali si Engkong lagi bernostalgia acara Ceng Beng di kampung halamannya, gue nggak terlalu pusing soal awal mulanya Ceng Beng, tapi terus terang gue lebih bisa menikmati acara Ceng Beng itu belakangan ini, setelah dewasa, setelah mengalami, kalau orang sudah dewasa itu susah mau kumpul-kumpul, kalau nggak ada satu festival resmi seperti Ceng Beng begini, jarang kumpul sama saudara, maka gue semakin
senang mengamati, kalau Ceng Beng itu ngapain aja sih?

Betul kata engkong, Ceng Beng itu acara piknik tidak kentara, hihihihi.
Pasalnya kita semua janjian, mau ke Bong (makam) hari apa jam berapa,
dan masing-masing mempersiapkan apa yang mau dibawa untuk disajikan di
altar, dalam khayalan seolah hendak menyajikannya kepada leluhur. Maka
kadang yang di bawa adalah buah/ makanan yang disukai oleh almarhum yang
makamnya dikunjungi. Yang lain biasanya adalah hidangan standar, seperti
buah dan beberapa macam masakan.

Ada yang bilang, sewaktu set up altar, itu sebetulnya memetakan alam
semesta diatas bidang datar. Jadi jangan heran kalau diatas altar
disediakan makanan yang berasal dari hewan air, darat, dan udara
(namanya samseng) , hasil bumi yang melambangkan yin dan yang. Buat gue
itu semua terlalu ruwet, gue cukup senang melihat sebentuk ayam, ikan,
dan kepala babi yang nyengir di atas altar, dikelilingi beberapa macam
kue manis dan buah-buahan warna warni, yang tampak indah dipandang.
Setelah selesai yang dituakan membereskan set up altar, dimulailah
upacara sembahyang. Mulai yang paling dituakan, lalu kepada cucu yang
kedudukannya paling muda (enggak lihat umur tapi lihat posisi
kedudukannya dalam silsilah keluarga). Saudara dan Anak pakai tiga
hio(dupa linting), cucu pakai dua hio, buyut dikasih jatah satu hio.
Dulu gue pernah tanya sama Oma, kalau sembahyang itu ngomong apa? Kata
Oma, Intinya mengundang leluhur untuk menerima sajian/suguhan dari kita.
Gue sih manggut-manggut aje waktu itu.

Setelah sembahyangan, mulai deh acara bakar bakaran, hehehe, hus, jangan
mikir kerusuhan, itu tuh yang dibakar itu duit duitan, Bank Hell notes
itu, atau Gin Coa, ceritanya nanti jadi uang yang akan digunakan di alam
akherat sana gitu, terus bakar juga beberapa barang lain, misalnya
koper2an yang isinya komplit duit, seperangkat pakaian, sendal, sepatu,
begitu. Kalau mau ada juga tambahan barang barang lain semuanya terbuat
dari kertas/plastik yang khusus di design untuk keperluan ini., sebangsa
mobil, handphone, creditcard, perhiasan, dompet, jam tangan, de el el,
hehehehe.

Sambil menunggu semua barang itu habis terbakar, mulailah acara piknik,
keluar deh bawaan masing-masing, biasanya bikinan sendiri, yang jarang
dijual di toko. Sambil makan, sambil ngobrol, gossip keluarga, kadang
senda gurau, jadilah kayak acara piknik beneran, piknik setahun sekali
keluarga besar.

Biasanya begitu makanan yang dibawa habis, selesai juga deh acara bakar
bakaran. Lalu tetua Kwa Pwee biasanya pakai sepasang uang logam,
menanyakan kepada "penghuni makam" apakah sudah selesai "makan".
Kalau sudah selesai, maka seantero anak cucu lalu pai (menghormat) lagi
sambil pamitan dan minta ijin membereskan altar. Setelah itu, altar
dibenahi, dan pulang. Tapi biasanya sih enggak langsung pulang, antero
keluarga besar lalu kumpul lagi di restoran, makan siang bersama,
setelah makan siang baru deh pada pulang ke rumah masing masing.

Kalau habis acara Ceng Beng di Bong, kecuali makan bersama di restoran, pulang
dari Bong enggak boleh mampir ke rumah orang lain, harus langsung pulang
ke rumah masing-masing. Setelah di rumah pun lantas mandi, baru setelah
itu mau kemana mau kemana boleh seperti biasa lagi.


Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller